Rabu, 22 Februari 2012

SETELAH MENIKAH SATU BULAN DUA MALAM TIBALAH KEJUTAN ITU !

Percakapan antara dua sahabat:
Dia berkata: “Setelah kami menikah satu bulan dua malam, aku mengalami hal yang sangat mengejutkan ….
Aku masuk menemuinya malam ini …
setelah kami menikah satu bulan dua malam ….
aku mendapatinya ….”
Akupun berkata: “Tenangkan dirimu. Bagaimana engkau memilihnya? Apakah sebelumnya engkau telah mengetahui agamanya?”
Dia menjawab: “Aku tidak mengenalnya sedikitpun. Hanya saja saudara-saudaraku merekomendasikannya untukku.
Dia berasal dari kota yang jauh dariku.
Namanya Aisyah. Nama yang langsung membuatku tertarik ketika mereka menyebutnya untukku.
Ketika aku pergi melamarnya, ketika itu sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Aku telah shalat istikharah.
Akupun musafir ke negerinya yang jauh. Aku menahan berat safar di kala puasa.
Aku ketuk pintu rumahnya, keluarlah kakaknya yang telah janjian denganku sebelumnya.
Dia menyambutku dan akupun masuk.
Waktu itu sebelum magrib kurang sedikit, ternyata ayahnya tidak ada di rumah. Mereka bilang ia sedang i’tikaf di masjid.
Subhanallah, ini sesuatu yang baik!
Kami shalat isya’ dan tarawih bersamanya.
Kemudian kakaknya memperkenalkan aku kepadanya: “Ini fulan, yang ingin melamar Aisyah.”
Ayahnyapun menyambutku.
Aku ingin memulai pembicaraan secara rinci namun ayahnya mendahuluiku berkata: “Saat ini, aku tidak bisa berbicara lebih jauh tentang masalah ini.”
“Kenapa?”
Jawabnya: “Waktu tidak mengizinkan.”
“Maksudnya?”
“Aku sedang i’tikaf. Malam-malam ini hanya untuk dzikir, ibadah dan membaca Al-Qur’an.”
Aku katakan: “Kalau begitu izinkan aku melihatnya.”
Dia menjawab: “Itu hakmu dan itu adalah sunnah.”
Lalu dia memintaku agar jangan lagi menyia-nyiakan semenitpun dari waktunya. Lalu dia tersenyum dan beranjak menuju salah satu sisi masjid.
Aku kembali lagi ke rumah mereka.
Di jalan, dengan malu-malu aku bertanya kepada kakaknya: “A..apa..kah ukh..ti Aisyah banyak menghafal Al-Qur’an?”
Dia menjawabku dengan penuh perhatian: “Menghafal itu tidak penting, yang penting adalah mengamalkan Islam.”
Aku tidak tahu, apakah aku harus bertambah bahagia ataukah bertambah heran.
“Aisyah, keluarlah.”
Aku menghadap ke arah kamar … ternyata dia tidak menundukkan pandangannya … namun aku berpura-pura menundukkan pandanganku.
Kakaknya pun langsung menegurku: “Ini bukan tempatnya menundukkan pandangan.”
Kembali aku tak tahu harus bagaimana: bahagia atau bertambah heran.
Tanda tanya dan keheranan tak membuatku lupa memandangnya dengan dalam.
Terus terang dia cantik.
Aku bertanya padanya: “Ukhti, berapakah engkau hafal dari Al-Qur’an?”
Dia menjawab: “Juz ‘Amma.” Kemudian dia pamit dan pergi.
Aku berkata pada kakaknya dengan menahan rasa kesal: “Kenapa dia tidak duduk bersama kita?”
“Agama hanya membolehkanmu untuk melihat” jawabnya.
Dia tidak membiarkanku untuk berfikir, dia langsung berkata padaku: “Jika engkau sudah setuju, tolong jangan sia-siakan waktu kami.”
“Kita belum menyepakati apapun, aku belum mendatangkan keluargaku. Kita juga belum melewati waktu yang cukup untuk berkenalan.”
Dia berkata sambil menundukkan kepalanya: “Tuan, mari kita sepakat dan datangkan keluargamu. Apa yang engkau maksud dengan waktu yang cukup? Apakah engkau datang kesini tanpa ada kepastian dari kami?”
Dia berkata lagi: “Kami tidak ingin engkau susah payah menyiapkan sebuah rumah, kesederhanaan yang perlu. Adapun masalah mahar, engkau tahu bahwa mahar yang sedikit lebih berkah. Cukup datangkan keluargamu sekali, kemudian berikutnya pernikahan. Dengan demikian kami menghemat pengeluaranmu.”
Kakanya yang lain memotong pembicaraan dan berkata: “Mari kita tidur biar kita bisa bangun sebelum subuh untuk tahajjud.”
Aku berkata sambil tersenyum tanpa sebab: “Kalian memiliki televisi kan?”
Dia berkata padaku sambil bercanda: “Jangan keras-keras, biar tidak didengar oleh calonmu.”
Sungguh pemandangan taat beragama yang sempurna.
Tapi, kenapakah tidak bicara tentang segala sesuatunya dengan rinci?
Kenapa semuanya dipercepat?
Mungkin karena tidak mau menyusahkan aku ……

* * *
Akupun datang bersama keluargaku … kecuali ayahku, dia menolak ikut dengan keras, katanya: “Putri-putri pamanmu lebih pantas untukmu.”
Lalu dia berkata sambil menutup pembicaraan: “Pergilah untuk wanita yang maharnya sedikit dan biayanya tidak banyak. Ajaklah ibumu.”
Akupun pergi bersama ibuku dan ibuku membuat Aisyah kagum.
Aku bertanya kepada ibuku: “Apakah Aisyah ada menyinggung tentang hafalan Al-Qur’annya?”
Ibuku menjawab: “Tidak, demi Allah … Cuma aku mendengarnya berkata kepada adik perempuannya: “Malam ini insya Allah aku menyimakmu mengulang ayat-ayat yang mirip dalam surat Al-Ma’idah.”
Bumi ini terasa berputar … dia bilang padaku dia hafal juz Amma. Apa dia hanya berpura-pura di depan ibuku? Atau dia lupa ucapannya padaku?
Aku putuskan untuk mengirim sms ke kakaknya untuk memberikanku jawaban atas segala kebingunganku selama ini, terlebih mereka menolak kami datang untuk kedua kalinya dengan alasan tidak ada tuntutan untuk itu.
Ayahnya berkata kepadaku dengan ringkas: “Anakku, kami ingin ada seorang lelaki yang melindungi putri kami. Kami tidak ingin menekanmu dengan materi dalam hal apapun. Kami juga tidak senang orang sering keluar masuk rumah kami, siapapun itu. Segeralah menikah. Datanglah dan tidak usah memikirkan biaya. Aku telah putuskan untuk mengeluarkan sendiri biaya persiapan Aisyah agar tidak memberatkanmu. Anggaplah itu hadiah dariku.”
Aku berfikir untuk mengulang istikharah … dan akupun melakukannya.
Aku bertanya pada ibuku: “Bagaimana pendapat ibu tentang mempercepat proses pernikahan seperti permintaan mereka?”
Ibuku menjawab: “Tanyalah ayahmu.”
Ayahku berkata: “Anakku, kita sekarang ini hidup di zaman yang penuh dengan keanehan. Sepertinya engkau harus menyegerakannya agar segala keanehan itu lengkap.”
Aku berkata: “Apanya yang aneh? Bukankah kebajikan yang paling baik adalah yang paling segera?”
Ayahku tertawa mengejek: “Kebajikan … yakni keburukan yang nyata.”
Aku berkata: “Tapi kami hanya mengetahui kebaikan dari mereka. Apa tidak cukup ketika ayahnya menawarkan segala sesuatu yang telah kusampaikan kepada ayah?”
Ayahku menjawab dengan penuh kepercayaan diri: “Hal seperti ini tidak dilakukan oleh ayah pengantin wanita melainkan jika ada sesuatu di balik semua itu.”
Aku berkata: “Kenapa hal seperti itu tidak bisa menjadi kebaikan?”
Ayahku menjawab dengan tegas: “Zaman para nabi telah lewat.”
Air mataku meleleh … kebingungan dan kegelisahan merayapiku … apa sebenarnya ini …
Semua keshalihan yang aku lihat …
Akhlak yang aku baca dalam kitab-kitab …
Namun, ini keshalihan yang asing yang tidak biasa kami temui … seakan semuanya berlebihan.
Ayahku yakin ada sesuatu di balik keanehan ini.
Namun aku yakin dengan Aisyah … selama ayahku tidak menentang dengan keras, ini pertanda aku bisa melanjutkan proses.
Namun, ini butuh istikharah lagi …

* * *

Pada malam pengantin, aku masuk menemuinya …
Setelah perjalanan yang melelahkan bersama …
Aku mengucapkan salam … lalu ia membalasnya sambil tersenyum …
Sungguh dia mampu menyihir … dia ceria bersama bekas-bekas perjalanan yang melelahkan …
Kuletakkan telapak tanganku di ubun-ubunnya:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فَطَرْتَهَا عَلَيْهِ . . .
Aku mendengarnya berkata:
جَبَلْتَ …
Seakan dia mengoreksi bacaanku … akupun meralat kesalahanku … lalu aku menyempurnakan doa nabawi tersebut agar aku menerapkan sunnah dengan sempurna.
Kuturunkan tanganku …
Setelah doa tersebut, kalimat pertama yang meluncur dariku adalah sebuah pertanyaan lucu …
“Berapa engkau hafal dari Al-Qur’an?”
“Semuanya, Alhamdulillah” jawabnya.
Akupun berkata dengan nada protes seolah aku mencelanya: “Bukankah dulu engkau bilang engkau hafal juz Amma?”
Dia menjawab: “Aku hanya menyindir dan aku tidak bohong. Hari itu adalah hari lamaran, aku tidak tertarik untuk menghiasi diriku di hadapanmu.”
Aku gemetar dan dia memegang tanganku lalu berkata: “Malam ini bukan malam untuk menyalahkan dan mencela … mari
وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ …

* * *

Sebulan berlalu …
Kami tidur setiap malamnya setelah isya’ atau kami bergadang beberapa waktu …
Kami tidur hingga dekat waktu subuh …
Jarak antara kami bangun tidur dengan waktu subuh hanya seukuran waktu wudhu’.
Selama itu tidak pernah dia shalat malam ataupun puasa sunnah … tidak pula shalat sunnah …
Kesibukannya hanya berhias, mempercantik diri, memakai wewangian …
Tidak pernah sekalipun dia membangunkanku untuk shalat malam …
Tidak pernah sekalipun dia mengusulkan agar aku menjenguk ayahku atau saudari-saudariku atau kerabat-kerabatku …
Hingga tiba malam itu …

* * *

Aku telah melewati cuti yang diberikan dan aku harus pulang …
Lalu aku dikejutkan oleh sebuah tugas yang mengharuskanku musafir selama dua hari …
Dan aku harus patuh …
Aku beritahu dia tentang kepergianku …
Namun aku bilang padanya bahwa bisa jadi aku pergi tiga hari, agar jika aku terlambat dia tidak gelisah. Namun ternyata tugasku selesai tepat waktu dan tidak butuh waktu tambahan.
Aku pulang dan sampai di rumahku sekitar satu jam setelah isya’.
Aku mengetuk pintu dengan lembut, namun tidak ada orang …
Aku berkata dalam hati: “Mungkin dia tidur.” Aku tidak ingin membuatnya terbangun.
Aku memasukkan kunci ke lubangnya dengan pelan …
Lalu memutarnya dengan hati-hati …
Aku membuka pintu dan masuk …
Aku membaca bismillah dan mengucapkan salam dengan lirih tanpa bisa didengar orang lain …
Aku tutup pintu dengan tenang …
Lalu aku segera menuju kamar tidurku …
Ketika aku berjalan mendekati kamar tidur aku mendengar suara nafasnya yang seolah tengah menghembuskan nafas-nafas terakhir … siselingi tangisan dan isakan …
Apa yang sedang terjadi?!
Aku mendekati pintu kamar … ternyata tidak tertutup rapat …
Aku memutar gagang pintu …
Ketika aku masuk aku menyaksikan sesuatu yang tidak aku sangka-sangka … pemandangan yang tidak terlintas dalam benakku …
Aisyah … istriku … tengah sujud menghadap pintu …
Bersimpuh di hadapan Allah …
Menangis di hadapan-Nya …
Menangis dan terisak …
Berdoa dan terguncang …
Dia terus sujud … lama …
Kemudian dia bangkit … pintu di arah kiblat … dia menyadari keberadaanku .. lalu dia sujud kembali namun tidak memanjangkannya … lalu dia duduk dan salam …
Dia segera menujuku, menyambutku, sedang aku tak kuasa menahan tangisku …
Betapa aku anggap kerdil diriku di hadapan wanita yang menangis dalam sujudnya yang tengah mendekatiku ini …
Dia letakkan tangannya yang lembut di dadaku … lalu kami duduk bersama … seolah aku terlahir kembali …
Suaranya yang lembut menyadarkanku: “Kemana saja engkau pergi?”
“Aku pergi demimu … aku pergi menujumu … namun sungguh aku takkan pernah pergi darimu.”
Kupandangi ia … wajah yang menyihir dan bersinar …
“Aisyah, semoga Allah memberkahimu … akhlak yang aku saksikan malam ini tidak pernah aku saksikan selama sebulan ini. Hingga berbagai prasangka muncul di benakku.”
“Akhlak yang mana?”
“Shalat malammu … tangisanmu … dan …”
Dia memotongku: “Suamiku tercinta, apakah engkau menungguku shalat malam di malam-malam pengantin kita? Sesungguhnya puncak ibadahku kepada Allah pada masa yang telah lewat ini adalah aku mendekatkan diri kepadamu, aku berhias untukmu, aku mempercantik diri untukmu … agar engkau tidak melihat bagian diriku melainkan engkau menyukaiku karenanya. Inilah ibadah paling utama yang bisa dilakukan oleh seorang istri di masa awal pernikahannya.”
“Tapi … tapi, engkau tidak pernah menyuruhku untuk ziarah atau silatur rahim selama ini.”
Dia tersenyum: “Bagaimana aku bisa menganjurkanmu untuk itu sedangkan syaitan mengalir bersama aliran darah dalam tubuh manusia …
aku tak mau syaitan menggodamu dan mengatakan bahwa aku hanya ingin jauh darimu meski hanya sesaat.
Namun ketika engkau ziarah dan berbuat baik pada kerabatmu aku merasa bahagia dalam hati dengan perbuatanmu. Namun aku tidak menampakkannya.
Ketika engkau musafir aku menyadari bahwa kehidupan biasa telah dimulai. Maka akupun kembali menjalani hidupku seperti biasa seperti ketika aku belum menikah.
Dan mulai sekarang … bersiap-siaplah untuk bangun shalat malam …” (sambil dia tertawa penuh kasih).
Jika tidak … aku akan menyiram wajahmu yang tampan dengan air dalam gelas ini.”
Dia menarik nafas dalam-dalam …
Lalu melanjutkan ucapannya: “Tapi aku punya kritikan atasmu …”
“Apa itu?” kataku.
“Ketika engkau musafir dan setelah itu kembali dengan selamat … usahakan menemui kami di siang hari, bukan di malam hari.”
“Kenapa?”
Dia berkata: “Inilah adab nabawi bagi orang yang musafir.
Bukankah Nabi g bersabda:
إِذَا رَجَعَ أَحَدُكُمْ مِنْ سَفَرِهِ فَلاَ يَطْرُقْ أَهْلَهُ لَيْلاً حَتَّى تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيْبَةُ
“Jika salah seorang dari kalian pulang dari safarnya, maka janganlah dia menemui istrinya pada malam hari, agar dia bisa berhias terlebih dahulu.”
Aku berkata – dan sungguh hadits itu telah membuatku malu – : “Wanita yang rambutnya kusut dan wanita yang ditinggal pergi suaminya?”
Dia menjawab: “Ya. Yaitu wanita yang tidak memperhatikan penampilan dirinya pada waktu suaminya pergi. Inilah yang harus dilakukan oleh seorang istri yang shalihah dan amanah. Dia hanya berhias untuk suaminya. Ketika suaminya pergi dia tidak berhias sama sekali karena tidak ada faktor pendorongnya. Seandainya suami pulang siang, tentu dia punya waktu untuk berhias.”
Aku menghela nafas … aku berkata dalam hati: Kini engkau lebih berkesan bagiku dari segala yang indah … aku merasa telah memiliki harta paling berharga … ya … sebaik-baik perhiasan dunia … inilah buah dari sebuah keluarga yang lebih memilih untuk istiqamah meskipun dianggap aneh oleh orang-orang …

* * *

Sahabatku berkata padaku: “Sejak hari itu … sejak 20 tahun yang lalu … aku sangat bahagia … aku berada dalam kebaikan yang banyak … keturunan yang baik, dimana ibu mereka mendidik mereka dengan baik untuk taat dan ikhlas …”
Aku memotongnya dengan berkata:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

* * *

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا وَجَمِيْعَ شَبَابِ الْمُسْلِمِيْنَ الزَّوْجَاتِ الصَّالِحَاتِ وَارْزُقْ اَللَّهُمَّ جَمِيْعَ بَنَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ اْلأَزْوَاجَ الصَّالِحِيْنَ


Diterjemahkan secara bebas dari: kulalsalafiyeen.com artikel dengan judul:

بعد زواجهما بشهر واحد وليلتين اثنتين كانت المفاجأة


Source :
http://mdsaputra.wordpress.com/2011/12/27/setelah-menikah-satu-bulan-dua-malam-tibalah-kejutan-itu/

Senin, 13 Februari 2012

Sampai Jumpa Di Puncak Kesuksesan

Mengkapitalisasi DIri Dan Amunisi Diri di Era Kapitalisme Ini..
 
Yuk Berusaha Menjadi Yang Number One d mana saja, Sampai Jeumpa Di Puncak Tangga Kesuksesan Kawan Smua 
:)

Jumat, 03 Februari 2012

Memahami uang Dan Kekayaan Dari bung Annis Matta, LC.

Ikhwah sekalian..

Saya ingin bicara 3 point supaya kita lebih terarah dalam soal uang.
  • Pertama,  Mengapa  Islam  menyuruh  kita  kaya.
  • Kedua,  Mencari penjelasan tentang mengapa kita miskin.
  • Ketiga, Bagaimana kita mulai merekonstruksi kehidupan finansial kita.
Ibnu Abid Duni menjelaskan beberapa alasan tentang mengapa kita semua diperintahkan menjadi kaya  dalam  Islam  itu.  Alasan  Pertama,  karena  harta  itu  tulang punggung kehidupan. Makanya orang kalau punya harta punggungnya rada bungkuk sedikit. Antum lihat orang-orang Amerika kalau datang ke sini tegap-tegap semua kan , karena punya duit. Pejabat-pejabat keuangan  kita  kumpul  di  CGI  tunduk-tunduk  semua,  karena  mau pinjam duit. Allah mengatakan “Janganlah kamu berikan harta-harta kamu  kepada  orang-orang  bodoh (orang-orang  yang  tidak  sehat akalnya) yaitu harta harta yang telah Allah jadikan kamu sebagai yang membuat punggung tegap”. Jadi Hidup kita tidak normal begitu kita tidak punya uang. Kita pasti punya banyak masalah begitu kita tidak punya uang.
Alasan kedua, peredaran uang itu adalah indikator keshalehan atau keburukan  masyarakat.  Apabila  uang  itu  beredar  lebih  banyak ditangan orang-orang jahat maka itu indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-orang shaleh maka itu indikasi bahwa masyarakat itu sehat. Masyarakat Indonesia ini rusak salah satu indikasinya karena karena orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara wa masakin. Ahlul Masjid di negeri ini terdiri atas  fuqara  wa  masakin.  Bahkan  sebagian  besar  orang  mungkin mengunjungi  masjid  bukan  karena  benar-benar  ingin  ke  Masjid, melainkan    karena    tidak    punya    tempat    untuk    dipakai mengaktualisasikan diri. Antum lihat orang- orang tua yang datang ke masjid biasanya orang yang kalah dalam pergulatan sosial. Kalau dia tentara, biasa setelah pensiun baru dia ke masjid. Kalau dia pedagang biasanya  setelah dia bangkrut  baru dia ke masjid.
Rasulullah SAW mengatakan “Sebaik- baik uang itu adalah uang yang beredar diantara orang-orang  shaleh”  Jadi  Apabila  kita  yang  ada  di  sini  tidak mengendalikan uang yang ada di Riau, itu adalah tanda- tanda yang tidak bagus. Kenapa? karena kalau uang itu berada ditangan orang- orang shaleh maka uang itu akan mengalir di saluran- saluran yang baik. Kalau ibu-ibu disini dibagikan 1 Milyar kira-kira uang itu akan diapakan.  Buat  daftar  belanjanya.  Antum  bisa  lihat  semuanya  itu belanja kebaikan. Pertama, pasti akan dipakai untuk potongan partai. Coba lihat anggota DPR, begitu jadi anggota dewan yang pertama potongan buat partai. Waktu itu ada teman dari Golkar dan PPP, “Itu dana konstituen diapakan?” Kita jawab itu tidak lewat kita, melainkan langsung ke Dapil (Daerah Pemilihan).
Uang yang masuk ke tangan orang  shaleh  pasti  mengalirnya  di  kebaikan juga.
“Kalau gajinya berapa di potong? Kalau di Golkar cuma 2,5 juta perbulan di potong”. Kalau di PKS itu biasa 50 sampai 60 % dipotong. Jadi antum lihat daftar  belanjanya orang shaleh. Kedua, untuk rihlah, kemungkinan itu pergi umrah  atau  menghajikan  keluarga  atau  naik  haji  sendiri.  Bapak-bapaknya pun kalau punya uang 1 Milyar, tidak jauh- jauh dari situ juga;  infak  buat  partai,  menyenangkan  keluarga,  dan  operasional pribadi untuk dakwah pribadinya juga. Semuanya di jalur kebaikan. Bila ada kenikmatan, tidak mungkin dia pergi judi. Tidak mungkin juga dia pergi ke tempat prostitusi, paling- paling dia cari jalur halal. Tapi coba sebaliknya, kalau uang itu beredar ditangan orang jahat, larinya juga pada kejahatan. Salah seorang saudara saya cerita, waktu itu ada seorang kaya sangat kaya di daerah Indonesia. Orangnya masih hidup sekarang. Dia punya private jet. Saking kayanya, dia suka main judi ke London.  Pesawat  private  jet  itu  jenis  Boeing.  Jadi  kalau  pergi  dia membawa rombongan, biasanya dia parkir disana 1 minggu atau 2 minggu.  Itu  kalau  parkir,  kan  bayar.  Selama  dia  main  judi,  dia persilahkan teman- temannya yang ingin pakai pesawatnya, seperti layaknya meminjamkan mobil. Sekali main, biasanya bisa rugi sampai 5 juta dollar, meskipun kadang- kadang untung 8 juta dollar. Sekali waktu mereka main ke sana, sudah beberapa hari kangen dengan Nasi Padang. Dia bilang ke Pilotnya tolong ke Singapore beli Nasi Padang terus balik lagi ke London. Begitulah cara mereka menggunakan uang. Kalaupun orang kaya itu muslim, tidak berjudi, tapi dia tidak punya visi dakwah, dan tidak hidup untuk satu misi besar dalam hidupnya, dia pasti akan menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi, seperti perhiasan dan seterusnya. Saya punya kawan, kalau dia pakai seluruh perhiasannya kira- kira sekitar 2 juta dollar di badannya, cincinnya 1 juta dollar. Mobilnya ½ juta dollar, jam tangannya biasa sampai 2milyar. Adalagi temannya kira- kira punya 200-an jam tangan. Sebuah jam tangan itu harganya kira- kira 2 milyar. Lebih buruk lagi, kadang-kadang  orang  kaya  yang  tidak  baik  memakai  uangnya  untuk memerangi kebaikan. Itulah yang terjadi ketika orang-orang Yahudi memegang kendali keuangan dunia. Maka dari itu menjadi kaya itu bagi kita adalah satu keharusan, untuk mengembalikan keseimbangan sosial,  kehidupan  di  tengah-  tengah  kita.  Ketiga,  terlalu  banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Antum lihat 5 rukun Islam, Syahadat tidak pakai uang, sholat tidak pakai uang, puasa tidak pakai uang tapi zakat dan haji pakai uang. Kalau 200 ribu  orang  umat  Islam  Indonesia  tiap  tahun  pergi  haji.  Rata-  rata mengeluarkan 5000 dollar, coba antum kalikan berapa banyak uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi Jihad. Jadi kita tidak bisa berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di Indonesia sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi berperang, tenaga kita tidak diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang disana. Rasul Mengatakan “Siapa yang menyiapkan seseorang bertempur maka dia juga dapat pahala perang”. Jadi bannyak sekali perintah-perintah Islam yang memerlukan uang. Waktu Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, diantara hadits-hadits pertama yang beliau sampaikan pada waktu itu adalah Afsussalam wa ath’imu tho’am. Jadi mentraktir itu tradisi  nabawiyah.  Sering-seringlah  mentraktir  karena  itu  perintah Nabi,  dan  ini  turunnya  di  Madinah  pada  saat  menjelang  mihwar daulah. Kira- kira di jaman kita inilah, di mihwar dakwah sekarang. Washilul arham dan sambung shilaturrahim. Antum akan melihat nanti di akhir penjelasan saya nanti bahwa ciri-ciri orang maju itu salah satunya adalah kalau belanjanya dalam 3 hal lebih besar daripada belanja kebutuhan lauk- pauknya, salah satunya belanja komunikasi. Jadi kalau biaya pulsa kita lebih tinggi itu indikator yang baik. Itu artinya shilaturrahim kita jalan. Jangan missed call, suruh orang telpon balik. Keempat, Karena harta itu adalah hal- hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Antum akan lebih berwibawa dan didengar orang kalau punya uang. Apabila tidak punya uang,  biasanya  kita  juga  biasanya  jarang  didengar  oleh  orang. Misalnya  dalam  keluarga.  Antum  bersaudara  ada 7  orang. Kalau kontribusi finansial antum dalam keluarga itu tidak banyak dan bila antum satu-satunya da’i dalam keluarga, dakwah antum juga kurang didengar oleh keluarga. Karena disamping ingin mendengarkan nasihat yang baik orang juga ingin mendapatkan uang yang banyak. Hadiah-hadiah pada hari lebaran, infaq-infaq dan seterusnya dan itu biasanya melancarkan  dakwah  kita.  Saya  hadir  pada  suatu  waktu  di  sidang Ikatan anggota Parlemen Negara-Negara OKI. Setiap kali ada waktu bertanya yang paling pertama diberi kesempatan bertanya itu utusan dari Arab Saudi, sedangkan utusan dari Negara miskin seperti Maroko atau Tunisia biasanya tidak dapat giliran, kalau bukan sendiri yang angkat tangan. Masalah harta ternyata juga berpengaruh pada hal- hal seperti itu.


Pada tahun 1994 saya ke Jerman. Dua tahun baru selesai kuliah, disana saya bertemu dengan salah seorang ikhwah pengusaha yang punya beberapa supermarket disana. Dia datang menemui saya memakai Mercy. Saya protes kepada dia dengan semangat dakwah dan jihad, antum itu tega pakai Mercy, saudara-saudara antum di Palestina di sana  masih  berjuang,  antum  hidup  di  Jerman  ini  pakai  Mercy bagaimana ceritanya. Dia bilang nanti saya jelaskan, antum ikut saya saja dulu. Saya diajak keliling supermarketnya dulu. Orang itu memang kaya. Sudah keliling dia bilang, di Jerman ini kalau kau ingin ketemu seorang direktur, begitu kamu parkir mobil nanti direktur itu suruh sekretarisnya tengok dia itu pakai mobil apa. Jika kau tidak pakai Mercy nanti sekretarisnya bilang Direktur sedang tidak ada. Kalau kau pakai Mercy kau disambut baik-baik oleh mereka. Mercy ini wajib disini. Itu hal- hal yang dibangga-banggakan oleh manusia. Dan itu berkali-kali disebutkan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu sebagai Muslim saya ingin didengarkan orang, apalagi kita sebagai da’i kita perlu punya wibawa di depan orang. Sebagian dari wibawa itu dibentuk 0leh kondisi finansial kita. Ulama- ulama kita juga meriwayatkan bahwa ternyata  diantara  hal-hal  yang  disenangi  oleh  wanita  kepada  laki-laki  salah satunya adalah uangnya. Perempuan itu katanya menyenangi pada laki-laki kalau dia lebih pintar daripada si perempuan, kalau dia lebih kaya  daripada  perempuan,  lebih  kuat  daripada  perempuan.  Dan kepemimpinan itu kan diberikan kepada laki-laki salah satu sebabnya karena kewajiban memberikan nafkah itu. Kalau kita ingin berwibawa di depan istri tolong kewajibannya ditunaikan dengan sempurna. Itu akan menaikkan wibawa kita di depan istri. Seorang istri itu tidak hanya membutuhkan seorang suami yang romantis tapi juga seorang suami yang romantis dan realistis. Ada seorang akhwat berkata kepada saya, saya sebenarnya tidak materialistis tapi masalahnya kita realistis karena kita tidak bisa hidup tanpa materi. Dan kalau materi kita sedikit maka  hidup  kita  juga  tidak  akan  nyaman.  Sedikit  banyak  itu  juga penting. Kelima, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang itu bisa bahagia di dunia. Jangan lagi pernah bilang “biar miskin asal bahagia”. Sekarang perlu kita balik, “biar kaya asal bahagia”. Saya ingat guru saya waktu SD selalu mencari kamuflase, bahwa walaupun kita miskin tetap bisa bahagia. Memang bisa, tapi susah. Adalagi yang bilang “uang tidak bisa membeli cinta”. Memang tidak bisa, tapi kalau kita jatuh cinta dan punya uang itu lebih enak. Rasulullah SAW realistis sekali ketika dia mengatakan bahwa diantara yang membuat orang itu bahagia adalah: Pertama, Istri yang sholehah, kedua, rumah yang luas, dalam  hadits  lain  disebutkan  kamar-kamar  yang  banyak.  Menurut Syeikh Qordlowy yang disebut kamar-kamar itu minimal enam kamar. Satu buah kamar untuk suami istri, sebuah kamar untuk anak laki- laki, sebuah kamar untuk anak perempuan, sebuah untuk pembantu, dua buah  kamar  lainnya  untuk  kerabat  suami  dan  istri  yang  datang menginap di rumah. Itu 6 kamar tidak termasuk dapur, ruang makan, ruang  keluarga,  ruang  tamu,  perpustakaan  keluarga  dan  musholla. Kelanjutan dari hadits itu, dan kendaraan yang nyaman.


Antum  perhatikan  Rasulullah  mengatakan  rumah  dan  kendaraan. Rumah  itu  adalah  indikator  stabilitas  dan  kendaraan  itu  adalah indikator mobilitas. Rasulullah mengatakan kendaraan yang nyaman bukan sekedar kendaraan. Naik angkot itu kendaraan tapi belum tentu nyaman, tapi kalau ada sedan yang empuk sehingga kita bisa rehat, itu lebih bagus. Pulang mengisi Liqa’, kalau kendaraannya nyaman kan sedikit  mengurangi  kelelahan.  Itu  juga  perlu  garasi.  Jika  suaminya pengurus DPW, istrinya pengurus DPW, maka masing- masing perlu kendaraan juga. Kalau anaknya 7 siapa yang antar anaknya sekolah, jadi minimal perlu 3 mobil. Waktu saya tidak punya mobil, saya punya motor. Anak saya sekolah di al-Hikmah, jadi kalau pulang diantar sama keponakan saya, anak saya diikat, takut kalau tidur sewaktu-waktu bisa jatuh dari motor. Saya bilang saya dosa kalau anak saya sampai meninggal, akhirnya saya menelepon teman saya, “tolong sediakan mobil untuk saya”. Itulah pertama kali saya punya mobil. Dosa kita, kasihan anak itu jatuh dari motor. Setengah mati kita pupuk- pupuk, kita lahirkan dengan baik, tapi mati karena kecelakaan begitu. Kalau suaminya  pengurus  DPW  dan  istrinya  aktif  di  salimah  atau  di  Pos Wanita Keadilan, kan perlu mobilitas juga. Masa suaminya pergi pakai mobil, sedangkan istrinya pergi rapat kemana- mana sambil gendong anak. Dia sudah hamil 9 bulan, merawat anak, malam tidak tidur. Kita zhalim juga terhadap istri kalau kita tidak memberikan hal-hal yang membuat  dia  nyaman  dalam  kehidupan.  Untungnya  waktu  kita menikah dulu banyak akhwat kita yang tidak tahu hadits ini. Padahal dalam banyak pendapat di berbagai madzhab misalnya di madzhab Imam  Syafi’i,  apalagi  Imam  Malik,  kewajiban  wanita  itu  yang sebenarnya  hanya  melayani  suami  dan  mendidik  anak,  sedangkan pekerjaan rumah tangga, mencuci dan seterusnya itu tidak termasuk dalam kewajiban wanita. Qiyadah-qiyadah akhwat mengikuti daurah tingkat nasional kemarin di Jakarta. Coba bayangkan akhwat-akhwat kita sebagian besar sarjana. Waktu kuliah dia direkrut kan salah satu alasannya  karena  dia  anshirut  taqyir  dan  otaknya  brilian.  Banyak akhwat kita Indeks Prestasinya 4,1 begitu 10 tahun menikah, dia sudah tidak  nyambung  lagi  dengan  suaminya  kalau  bicara,  karena  dia mengalami  stagnasi  intelektual.  Tiba-tiba  dia  mengerjakan  semua semua  pekerjaan  pembantu  rumah  tangga,  dia  melahirkan  juga, melayani  suami  juga,  memasak  juga,  mencuci  juga,  dan  kadang-kadang  kita  terbawa  oleh  romantika  perjuangan,  rasanya  heroik melihat istri mencuci, suami pulang dakwah dalam keadaan lelah, istri dirumah  mencuci,  mengepel  lantai.  Sepuluh  tahun  kemudian  kita dielus-elus oleh istri, kita pikir sedang dipijit, padahal hanya dielus-elus karena tangannya dipakai untuk mencuci, jadi tangannya sudah bukan tangan ratu. Sementara suami pegang pulpen, pegang kertas karena sibuk mengisi halaqah, sedangkan pekerjaan yang kasar-kasar dikerjakan oleh istri. Sudah saatnya pekerjaan- pekerjaan begitu kita delegasikan kepada mesin. Jangan buang waktu di dapur, di tempat mencuci. Delegasikan kepada mesin. Kita ini orang- orang pilihan dari umat kita. Berapa banyak orang yang sarjana di negeri ini, sedikit. Makanya kalau capres syaratnya S-1 calonnya juga nanti sedikit. Saya tidak setuju kalau capres itu syaratnya S1, tamat SD pun bisalah. Sebagian besar orang ikut. Jadi yang bisa merasakan pendidikan tinggi itu barang elit di negeri ini. Jadi kalau akhwat kita yang sarjana itu setelah  menikah  disuruh  jadi  pembantu  rumah  tangga  atas  nama kesetiaan,  ketaatan,  cinta  dan  sejenisnya  maka  kita  telah  berbuat zalim terhadap SDM kita sendiri. Mungkin akhwat kita itu sabar-sabar, dia menerima keadaan. Tetapi walaupun dia menerima keadaan, kita kehilangan potensi, kita kehilangan umur-umur terbaik. Sebenarnya kalau  dipacu  untuk  dakwah,  untuk  kepentingan lebih besar, lebih strategis, faedah yang didapat pun akanjauh lebih besar, waktu kita ini tidak akan cukup mengerjakan hal- hal tersebut, maka belilah waktu orang  lain.  Hitung-  hitung  kalau  beli  tenaga  pembantu  kita  buka lapangan kerja, kita bukan hanya mendelegasikan pekerjaan kita juga buka pekerjaan bagi orang lain.


Kira-kira itulah 5 alasan mengapa kita perlu kaya. Memang, walaupun kita miskin kita masih bisa bahagia, tapi itu jauh lebih susah. Bahkan terkadang kekayaan itu lebih mendekatkan orang kepada Allah SWT dibanding  kemiskinan.  Makanya  Rasul  mengatakan  tentang  minum susu,  makan  habbatussauda’,  madu.  Coba  kalau  antum,  misalnya, tidur diatas kasur yang empuk dalam ruangan ber-AC, tidur 2 jam itu bisa  sangat  nyenyak.  Apalagi  minum  susu  hangat  sebelum  tidur.  Bangun  pagi  minum  madu  campur  habbatussauda’.  Saya  kira  kita perlu  memperbaiki  dan  melihat  kembali  pemahaman  keagamaan  seperti   ini   secara   benar.   Sehingga   kita   jangan   menganggap  kemewahan itu justru melelehkan orang tapi bikin nyaman. Inilah 5  alasan mengapa kita harus kaya.


hamasah Kawand Kawand..
Capai Akherat gapai Dunia
Salam DAHSYAt dari Jogja Istimewa